Translate

Saturday, June 3, 2017

Naskah Drama "Menunggu Godot / Waiting for Godot"



Waiting for Godot merupakan sebuah naskah drama yang sudah beberapa kali dipentaskan. Naskah ini pertama kali dipentaskan di Paris pada tanggal 5 januari 1953 . Naskah aslinya berbahasa Prancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa termasuk bahasa Indonesia.

 Waiting for godot mulai ditulis pada tanggal 9 Oktober 1948 dan selesai pada tanggal 29 Januari 1949. Naskah drama ini terdiri dari dua babak. Babak I dan babak II menunjukkan setting tempat dan waktu yang sama, yaitu di suatu jalan di desa pada suatu senja. Pada jalan itu terdapat sebuah pohon. Pada babak I, pohon itu tanpa daun, dan pada babak II sudah muncul beberapa helai daun. Tokoh yang terdapat dalam naskah ini hanya lima orang, yakni Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky, serta Boy. Namun dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh tersebut muncul nama Godot, ialah tokoh yang mereka nantikan. Godot tidak muncul dalam teks drama secara konvensional dalam artian hanya ada nama tokoh dan dialog tetapi hanya dalam ucapan tokoh tokoh yang membicarakannya. Dengan kata lain, kehadiran Godot adalah “ex absentia”, yakni keberadaan dari ketiadaan. Ia dibicarakan terus menerus namun ia tidak muncul. Ketiadaan dirinya telah menjadikannya sebagai pusat perhatian dan dengan cara yang demikian itulah ia menunjukkan kekuasaannya dalam hal daya paksanya terhadap Vladimir dan Estragon untuk tetap menunggunya datang.

Sumber : Kompasiana

ADEGAN I
Sebuah jalan desa. Sebatang pohon. Petang hari
Estragon duduk di sebuah gundukan, sedang mencoba melepaskan sepatu bootnya. Dia menarik dengan kedua tangannya, lalu ternengah-engah. Dia menyerah, Nampak sangat lelah, istirahat dan mencobanya lagi seperti sebelumnya. Masuk Vladimir.
Estragon : “Sia-sia!(menyerah lagi)”
Vladimir : (Maju dengan langkah pendek, berjalan kaki, kedua kakinya melangkah lebar)
“Aku mulai setuju dengan pendapat itu. sepanjang hidup aku mencoba menjauhkannya dariku dengan berkata; Vladimir cobalah berpikir, kau bahkan belum mencoba semuanya. Dan aku terus berjuang”.
Estragon : “Memang”
Estragon : “Memang”
Vladimir : “Aku senang melihatmu lagi. Aku kira kau telah pergi untuk selamanya”.
Estragon : “Aku juga”.
Vladimir : “Bersama lagi, akhirnya! Kita harus merayaknnya. Tapi bagaimana caranya? (dia berpikir) bangunlah dan aku akan memelukmu”.
Estragon : (Dengan marah) “Jangan sekarang. Jangan sekarang”
Vladimir : (Terluka, dengan dingin) “Bolehkah hamba tahu di manakah tuan puteri menghabiskan malamnya?”
Estragon : “Di selokan”.
Vladimir : (Dengan kagum) “Selokan? Di mana?”
Estragon : (Tanpa isyarat) “Di sana”.
Vladimir : “Dan mereka tidak memukulmu?”
Estragon : “Memukulku? Tentu saja mereka memukulku”
Vladimir : “Gerombolan yang sama?”
Estragon : “Sama? Aku tidak tahu”
Vladimir : “Jika aku memikirkan hal itu…. selama ini… apa jadinya kamu tanpa aku…. (dengan tegas) pada saat itu, kau tidak lain hanya seoonggok tulang. Aku yakin akan hal itu”.
Estragon : “Lantas?”
Vladimir : (Dengan muram) “Itu keterlaluan untuk seorang manusia (Pause. Dengan ceria) tapi sebaliknya, apa untungnya saat ini putus asa, itu yang aku katakan. Kita seharusnya memikirkan hal itu jutaan tahun yang lalu. Pada abad ke 19”.
Estragon : “Ah, hentikan ocehanmu dan bantu aku menyingkirkan barang rongsokan ini”.
Vladimir : “Pada awalnya, saling bergandengan di puncak menara Eiffel. Kita sangat cantik pada saat-saat itu. tapi sekarang sudah terlambat. Mereka bahkan tak akan pernah membiarkan kita naik lagi. (Estragon membuka sepatunya) apa yang akan kau lakukan?”
Estragon : “Mencopot sepatu booku. Apa kau tidak pernah melakukannya?”
Vladimir : “Sepatu harus dilepas setiap hari. Aku telah mengatakan hal itu padamu. Kenapa kau tidak mencoba mendengarku?”
Estragon : (Dengan lemah) “Bantu aku!”
Vladimir : “Sakitkah?”
Estragon : “Sakit!”
Vladimir : (Dengan marah) “Tak ada orang yang menderita selain kau, aku tidak termasuk. Aku ingin dengar apa yang akan kau katakan jika tahu apa yang aku alami”.
Estragon : (Menuding) “Kau mungkin mengancingkannya. Sama saja”.
Vladimir : (Membungkuk) “Benar (dia mengancingkan tutup luarnya) jangan pernah remehkan hal-hal kecil kehidupan”.
Estragon : “Apa yang kau harapkan, kau selalu menunggu sampai saat terakhir”
Vladimir : (Termenung) “Saat terakhir…. (dia merenung)
Harapan yang tertunda memang menyakitkan. Siapakah yang mengatakannya?”
Estragon : “Kau tidak menolongku?”
Vladimir : “Kadang-kadang aku merasa semuanya menjadi sama saja. Lalu aku merasa semuanya menggelikan.
(dia melepaskan topinya, menatap tajam ke dalamnya menggoncang-goncangkannya, lalu memakainya lagi) Bagaimana aku mengatakannya? Lega dan pada saat yang bersamaan…. (dia mencari kata yang tepat)…nge-ri. (dengan penekanan) Nge-ri (dia melepaskan topinya lagi, menatap tajam ke dalamnya) Lucu (dia mengetuk-ngetuk bagian atasnya seolah-olahmengusir bagian yang asing. Melihat bagian dalamnya lagi, memakainya kembali) sia-sia saja. (Estragon dengan kekuatan penuh berhasil menarik sepatu bootnya. Dia melihat bagian dalamnya, menggoncang-goncangnya, melihat ke tanah untuk memastikan apakah ada sesuatu yang keluar dari sepatunya, tidak menemukan apa-apa, merogoh dalamnya lagi. Menatap Vladimir dengan pandangan yang kabur)
Bagaimana?”
Estragon : “Tak ada”.
Vladimir : “Perlihatkan”
Estragon : “Tak ada yang perlu diperlihatkan”
Vladimir : “Coba pakailah lagi”
Estragon : (Memeriksa kakinya) “Aku akan mengangin-anginkannya sebentar”
Vladimir : “Ada banyak orang sepertimu. Menyalahkan sepatunya, padahal kakinya yang salah. (Dia melepas topinya lagi melihat ke dalamnya, merabanya, mengetuk bagian atasnya, meniupnya dan memakainya lagi) hal ini mulai mengkhawatirkan (Hening, Vladimir berpikir keras, Estragon menarik-narik jari-jari kakinya) Salah satu pencuri itu diselamatkan. (pause) bagian yang masuk akal. (pause) Gogo”.
Vladimir : “Kita sedang menunggu Godot”.
Estragon : (Dengan putus asa) “ Benar! (pause). Kau yakin di sini?”
Vladimir : “Dia berkata dekat pohon. (mereka melihat ke pohon). Kau lihat yang lainnya?”
Estragon : “Apa itu?”
Vladimir : “Aku tak tahu. Sebatang kayu”.
Estragon : “Ke mana daun-daunnya?”
Vladimir : “Pasti sudah mati”.
Estragon : “Nampak seperti semak-semak”
Vladimir : “Belukar”
Estragon : “Semak-semak”
Vladimir : “Sebuah- apa maksudmu? Bahwa kita telah datang ke tempat yang salah?”
Estragon : “Seharusnya dia di sini”.
Vladimir : “Dia tidak mengatakan dengan pasti bahwa dia akan datang”
Estragon : “Dan jika dia tidak datang?”
Vladimir : “Kita akan kembali besok”
Estragon : “Juga esok harinya”
Vladimir : “Mungkin”
Estragon : “Dan seterusnya”
Vladimir : “Intinya adalah”
Estragon : “Sampai dia datang”
Vladimir : “Kau tak berperasaan”

ADEGAN 2
Estragon : “Kita datang ke sini kemarin”
Vladimir : “Ah tidak, lihat kau salah?”
Estragon : “Apa yang kita kerjakan kemarin?”
Vladimir : “Apa yang kita kerjakan kemarin?”
Estragon : “Ya”
Vladimir : “Ya ampun…. (dengan marah). Tak ada yang pasti jika kau ada di dekatku”.
Estragon : “Menurutku kita di sini kemarin”
Vladimir : (memandangi sekitarnya)  “Kau mengenali tempat ini?”
Estragon : “Aku tidak mengatakan begitu”.
Vladimir : “Ya, lalu apa?”
Estragon : “Ah, tidak akan ada bedanya”
Vladimir : “Semuanya sama…. Pohon itu…. (berputar menghadap auditorium)… rawa-rawa itu”.
Estragon : “Kau yakin seharusnya malam ini?”
Vladimir : “Apa?”
Estragon : “Saat kita harus menunggu”
Vladimir : “Dia mengatakan hari sabtu. (pause) aku kira”
Pozzo (Keluar) : “Jalan! (suara lecutan. Pozzo muncul, mereka melewati panggung, lucky lewat di depan Vladimir dan Estragon dan keluar. Pozzo berhenti sejenak di depan Estragon dan Vladimir. Talinya mengencang. Pozzo menyentakkannya dengan keras) mundur!
(suara ribut Lucky yang jatuh bersama seluruh barangnya. Vladimir dan Estragon berpaling padanya, setengah berharap setengah takut ingin membantunya. Vladimir melangkah menuju Lucky, Estragon menahannya dengan menarik lengan bajunya)”
Vladimir : “Lepaskan aku!”
Estragon : “Diam di tempatmu!”
Pozzo : “Hati-hati! dia jahat! (Vladimir dan Estragon berpaling kearah Pozzo) terhadap orang-orang asing”.
Estragon : (Dengan suara pelan) “Itukah dia?”
Vladimir : “Siapa?”
Estragon : (Mencoba mengingat nama) “Ehhh….”
Vladimir : “Godot?”
Estragon : “Ya”.
Pozzo : “Kupersembahkan diriku; Pozzo”
Vladimir : (Pada Estragon) “Bukan sama sekali!”
Estragon : “Dia bilang Godot”
Vladimir : “Bukan sama sekali!”
Estragon : (Dengan takut-takut pada Pozzo) “Kau bukan godot?”
Pozzo : (Dengan suara menakutkan) “Aku Pozzo! (hening) Pozzo!(hening) tidak berartikah nama itu buat kalian? (hening) aku bilang tidak berartikah nama itu buat kalian?” (Vladimir dan Estragon bertatapan penuh pertanyaan)
Estragon : (Berpura-pura mencari) “Bozzo…. Bozo…”
Vladimir : (sama) “Pozzo…. Pozzo….”
Pozzo :” Pppozzoo!”
Estragon : “Ah! Pozzo…. Coba lihat…. Pozzo”
Vladimir : “Pozzo atau Bozzo?”
Estragon : “Pozzo…. Tidak… aku takut aku…. Tidak… nampaknya aku tidak….” (Pozzo maju dengan mangancam)
Vladimir : (mencoba menenangkan) “Aku pernah kenal sebuah keluarga yang bernama Gozzo. Ibunya juga mempunyai cambuk yang keras dan nyaring”
Estragon : (dengan tergesa-gesa) “Kami bukan dari sini nyonya”
Pozzo : (berhenti) “Kalian adalah manusia biasa, tak lebih (dia memakai kacamatanya) Sejauh yang bisa kulihat (dia melepas kacamatanya) dengan spesies yang sama sepertiku (tiba-tiba tawanya meledak) dengan spesies yang sama dengan Pozzo. Buatan citra Tuhan!”
Vladimir : “Kau lihat sendiri, kan-“
Pozzo : (dengan nada memerintah) “Siapa itu Godot?”
Estragon : “Godot?”
Pozzo : “Kau kira aku Godot”
Estragon : “Oh tidak nyonya, tidak sedikit pun”
Pozzo : “Siapa dia?”
Vladimir : “Oh, dia itu…. dia semacam kenalan”
Estragon : “Oh, bukan apa-apa nyonya, kami hampir tidak mengenalnya”
Vladimir : “Betul, kami tidak mengenalnya dengan baik…. Tetapi semua sama saja….”
Estragon : “Secara pribadi, saya bahkan tidak akan mengenalnya jika saya melihatnya”
Pozzo : “Kau kira aku dia”
Estragon : (melompat mundur di hadapan Pozzo) “Itu karena….Gelap….letih….tegang….menunggu….aku….mengaku….aku percaya….untuk sesaat….”
Pozzo : “Menunggu? Jadi kau menunggunya?”
Vladimir : “Oh….begini….”
Pozzo : “Di sini? Di tanahku?”
Vladimir : “Kami tidak bermaksud jahat, nyonya”.
Estragon : “Maksud kami baik”
Pozzo : “Setiap orang bisa lewat dengan bebas”
Estragon : “Begitulah kami melihatnya”
Pozzo : “Ini sebuah penghinaan. Tapi di sinilah kalian”
Estragon : “Bagaimana lagi”
Pozzo : (dengan isyarat tubuh baik hati) “Tidak usah kita bicarakan lagi hal ini (dia menyentakan tali) bangun, babi! (pause) setiap kali dia jatuh dia tertidur (menyentakkan tali) bangun, celeng! (suara ribut Lucky bangkit dan mengambil barang-barangnya. Pozzo menyentakkan talinya) mundur! (masuk lucky yang berjalan mundur) Stop! (Lucky berhenti) Berputar! (Lucky berputar. Pada Vladimir dan Estragon dengan ramah) Saudara, saudara saya bahagia bisa bertemu dengan Anda. (sebelum ekspresi meragukan mereka) ya, ya tulus saya bahagia (dia menyentakkan talinya) Mendekat (Lucky maju) Stop! (Lucky stop) Ya, jalan Nampak jauh jika seseorang melakukan perjalanan sendirian selama…. (dia melihat jamnya)…. Ya….(dia menghitung)….ya 6 jam, betul, 6 jam penuh, dan tidak ada satu jiwa pun yang terlihat. (pada Lucky) mantel! (Lucky meletakan tas, maju, menyerahkan mantel, kembali ke tempatnya, mengangkat tas) pegang ini! (Pozzo memegang cambuk. Lucky maju, kedua tangannya penuh dengan barang, mengambil cambuk dengan mulutnya, lalu kembali ke tempatnya. Pozzo mulai memakai mantelnya. Berhenti) Mantel! Lucky meletakkan tas, keranjang dan kursi, maju, membantu pozzo memakai mantelnya, kembali ke tempatnya dan mengangkat barangnya) Sejuknya udara malam ini (Pozzo selesai mengencangkan kancing mantelnya, emmbungkuk, memeriksa dirinya, meluruskan badan) Cambuk! (Lucky maju, membungkuk, Pozzo merenggut cambuk itu dari mulutnya, lucky kembali ke tempatnya) ya, saudara-saudara, saya tidak bisa berlama-lama dengan orang-orang yang bukan dari kalanganku (dia memakai kacamatanya dan menatap keduanya) Bahkan yang sederajat pun bukan orang yang sempurna (dia melepas kacamatanya) Kursi! (Lucky meletakkan tas dan keranjang, maju, membuka kursi, menggerakannya, kembali ke tempatnya, mengambil tas dan keranjang. Pozzo duduk , menempatkan pegangan cambuknya di dada Lucky dan menekannya) Mundur! (Lucky mundur selangkah) Lebih jauh! (Lucky mengambil langkah mundur lagi) Stop! (Lucky berhenti. Pada Vladimir dan Estragon) itulah sebabnya, tentu saja dengan seijin Anda, saya ingin dulu bercakap-cakap dengan Anda sebentar sebelum saya melanjutkan perjalanan lebih jauh. Keranjang! (Lucky maju, memberikan keranjang. Kembali ke tempatnya) udara segar merangsang selera makan yang hilang (dia membuka keranjang, mengeluarkan sepotong daging ayam dan sebotol anggur) Keranjang! (Lucky maju, mengambil kembali keranjangnya, kembali ke tempatnya) lebih jauh!( Lucky mengambil satu langkah lagi) Dia bau. Hari-hari bahagia! (dia minum dari botol, meletakkannya dan mulai makan. Hening. Vladimir dan Estragon pada awalnya dengan takut-takut tetapi kemudian dengan lebih berani mulai mengelilingi lucky dan memeriksanya dari atas sampai bawah. Pozzo makan ayam dengan rakusnya, melemparkan tulangnya setelah menghisapnya. Lucky berlutut dengan pelan, sampai tas dan keranjangnya menyentuh tanah, lalu meluruskan badan dengan tiba-tiba dan mulai melendut lagi. Irama tidur seseorang yang berdiri di atas kakinya)”
Estragon : “Sakit apa dia?”
Vladimir : “Dia kelihatan lelah”
Estragon : “Kenapa dia tidak meletakkan tasnya?”
Vladimir : “Mana aku tahu? (mereka mendekatinya) hati-hati!”
Estragon : “Katakan sesuatu padanya!”
Vladimir : “Lihat”
Estragon : “Apa?”
Vladimir : (menunjuk) “Lehernya!”
Estragon : (memandang lehernya) “Aku tak melihat apa-apa”.
Vladimir : “Sini” (estragon menghampiri Vladimir dan berdiri di sampingnya)
Estragon : “Oh, itu”
Vladimir : “Luka yang masih basah”
Estragon : “Talinya”
Vladimir : “Gesekannya”
Estragon : “Tak terhindarkan”
Vladimir : (dengan segan) “Wajahnya tidak terlalu buruk”
Estragon : (mengangkat bahunya, wajahnya menyeringai) “Begitukah menurutmu?”
Vladimir : “Nampak feminin”
Estragon “Lihat liurnya”
Vladimir : “Tak terhindarkan”
Estragon : “Lihat busanya”
Vladimir : “Mungkin dia setengah gila. Dan matanya?”
Estragon : “Kenapa dengan matanya?”
Vladimir : “Melotot keluar”
Estragon : “Nampaknya dia sekarat”
Vladimir : “Belum tentu (pause) Coba kau tanyai dia”
Estragon : (dengan takut-takut) “Maaf…nyonya”.
Pozzo : “Ada apa sahabatku?”
Estragon : “Eh…. Anda sudah selesai…. Eh…. Anda tidak membutuhkan…. Eh…tulang-tulang?”
Vladimir : (terkejut) “Kau sudah tidak sabar ya?”
Pozzo : “Tidak apa-apa. Dia memintanya dengan baik. Apakah aku membutuhkan tulang-tulang itu? (dia membolak-balikan tulang-tulang itu dengan cambuknya) Secara pribadi aku tidak membutuhkannya lagi (Estragon maju selangkah kea rah tulang-tulang itu) Tapi… (estragon berhenti mendadak)…. Tapi teorinya tulang-tulang itu milik yang membawanya. Mintalah ijin padanya. (estragon berpaling ke Lucky, bimbang) teruskan, maju saja, jangan takut, tanyalah padanya, dia akan menjawabnya (Estragon menghampiri Lucky, berhenti di depannya)”
Estragon : “Nyonya…. Permisi nyonya (Lucky tidak bereaksi, pozzo melecutkan cambuknya. Lucky mendongakkan kepalanya)”
Pozzo : “Kau sedang diajak bicara, babi! Jawab! (pada estragon) cobalah lagi”.
Estragon : “Maaf Nyonya, tulang-tulang, anda tidak membutuhkannya lagikah? (Lucky menatap lama pada estragon)”
Pozzo : (dengan keriangan) “Nyonya! (Lucky menundukan kepalanya) Jawab! Kau menginginkan atau tidak? (Lucky diam. Pada Estragon)
Vladimir : (meledak) “Ini memalukan! (hening. Terkejut. Estragon berhenti menggigiti tulangnya, menatap Pozzo dan Vladimir bergantian. Pozzo merasa tenang. Vladimir merasa malu)”
Pozzo : (pada Vladimir) “Apakah kau bermaksud mengatakan sesuatu yang khusus?”
Vladimir : (tegas berbicara dengan tak henti) “Memperlakukan seseorang…(tubuhnya menghadap Lucky)…dengan cara seperti itu…aku pikir….tidak…. seorang manusia….tidak…ini memalukan”.
Estragon : (tidak mau kalah) “Sebuah penghinaan!” (dia melanjutkan mengigiti tulangnya)
Pozzo : “Kau kasar (pada Vladimir) berapa usia Anda, jika ini bukan pertanyaan kasar. (hening) enam puluh? Tujuh puluh? (pada Estragon) menurut Anda, berapa usianya?”
Estragon : “Sebelas!”
Pozzo : “(dia mengetuk-ngetukan pipanya pada cambuk, bangkit) aku harus melanjutkan perjalananku. Terima kasih atas keramahanmu. (dia berpikir) kecuali jika aku merokok lagi sebelum pergi. Bagaimana menurutmu? (mereka diam saja) Oh… aku hanya seorang perokok ringan, sangat ringan. Bukan kebiasaanku merokok dua kali sekaligus, itu akan membuat jantungku dag-dig-dug. (hening) nikotinnya, mereka bilang tidak baik untuk kesehatan , tapi mungkin Anda tidak merokok? Ya? Tidak?”
Vladimir : “Ayo pergi”
Estragon : “Sekarang?”
Pozzo : “Sebentar (dia menyentakkan tali kekangnya) Kursi! (dia menuding dengan cambuknya. Lucky memindahkan kursinya) Lagi! Di sana! (dia duduk, Lucky kembali ke tempatnya) selesaikan! (dia menghisap pipanya)”
Vladimir : (dengan berapi-api) “Ayo pergi!”
Pozzo : “Aku harap aku tidak sedang mengusirmu. Tunggulah beberapa saat lagi. Kalian tidak akan menyesalinya”.
Estragon : (mencium kemurahan hati) “Kami tidak tergesa-gesa”
Pozzo : (menyalakan pipanya) “yang kedua tidak terlalu manis (dia mengeluarkan pipa dari mulutnya. Berpikir)…. Maksudku, seperti pertama kali (dia menghisap dan menghembuskan asap cerutunya kembali di mulutnya) tapi rasa manisnya sama”.
Vladimir : “Aku pergi”
Pozzo : “Dia sudah tidak tahan lagi dengan kehadiranku. Aku mungkin tidak manusiawi, tapi persetan. (pada Vladimir) berpikirlah dua kali sebelum kalian melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Andai Anda pergi sekarang padahal sekarang masih terang. apa yang terjadi dalam situasi itu tentang janji kalian dengan….Godot…. godot…. Godot…. Siapapun, kau tahu yang aku maksudkan
Vladimir : “Siapa yang mengatakannya padamu?”
Pozzo : “Dia bicara lagi padaku! Jika saja ini berlangsung lebih lama lagi tak lama lagi kita akan menjadi teman baik”.
Estragon : “Kenapa dia tidak meletakkan tasnya?”
Pozzo : “Tapi itu tidak mengejutkanku”
Vladimir : “Kamu sedang ditanyai”
Pozzo : “Pertanyaan? Apa? Siapa? (hening) sesaat yang lalu kau memanggilku dengan gemetar dan ketakutan. Sekarang Anda berani bertanya padaku. Akhir yang buruk”.
Vladimir : “Aku pikir ia mendengarkan”
Estragon : (mulai mengelilingi Lucky) “Apa?”
Vladimir : “Kau bisa bertanya sekarang padanya. Dia sudah siap”.
Estragon : “Bertanya apa?”
Vladimir : “Kenapa dia tidak meletakkan tasnya?”
Pozzo : (yang selama ini mengikuti pembicaraan dengan penuh perhatian) “kamu ingin tahu kenapa ia tidak meletakkan tasnya sebagaimana kau menyebutnya?”
Vladimir : “Benar”
Pozzo : “Jawabannya begini (pada Estragon) tapi tenanglah, aku mohon, kau membuatku gugup!”
Vladimir : “Sini”
Estragon : “Ada apa?”
Vladimir : “Dia hampir bicara (Estragon pergi ke samping Vladimir. Diam, berdampingan, mereka menunggu)”
Pozzo : “Bagus. Apakah semua sudah siap? Apakah semua orang menatapku? (dia memandang Lucky, menyentakkan tali, Lucky mengangkat kepalanya) maukah kau menatapku, Babi! (Lucky menatapnya) Bagus! (dia memasukan pipanya ke sakunya, mengeluarkan sedikit penyegar dan menyemprotkannya ke tenggorokannya.
Estragon : “Aku pergi”
Pozzo: “Apa yang sebenarnya kalian ingin ketahui?”
Vladimir : “Kenapa dia?”
Pozzo : (dengan marah) “Jangan memotong pembicaraanku! (pause, lebih tenang) jika kita bicara bersamaan, kita tidak akan sampai ke mana-mana.
Estragon : “(dengan paksa) Tas. (dia menuding Lucky) kenapa? Selalu dibawa? (dia melendut terengah-engah) tidak pernah diturunkan (dia membuka kedua tangannya, meregang ke atas dengan lega) kenapa?”
Pozzo : “Ah! Kenapa tidak kau katakan begitu tadi? Kenapa dia menyusahkan diri sendiri? Coba kita pecahkan masalah ini. Apakah dia tidak punya hak untuk melakukan itu? tentu saja dia punya. Hal itu ada padanya, tapi dia tidak menginginkannya? (pause) alasannya ini”.
Vladimir : (pada Estragon) “Perhatikan”
Pozzo : “Dia ingin membujukku sehingga aku tidak akan lagi berpikir untuk melepaskannya. Tidak, itu juga tidak terlalu tepat”.
Vladimir : “Kau ingin mengenyahkannya?”
Pozzo : “Coba saja seandainya ia ada di tempatku dan aku di tempatnya. Untung saja itu tidak terjadi. Setiap orang punya haknya masing-masing. Memang. Tapi ketimbang aku mengusirnya seperti yang mungkin pernah aku lakukan, maksudku ketimbang aku menendang bokongnya begitu saja. Maka dengan kebaikan hatiku aku justru membawanya ke pasar, dengan harapan aku akan dapat menjualnya dengan harga yang bagus. Sebenarnya kau tidak dapat membuang mahluk semacam ini. Yang terbaik adalah dengan membunuhnya. (Lucky menangis)”
Estragon : “Dia menangis”
Pozzo : “Anjing tua saja lebih punya harga diri (dia menawarkan saputangannya pada Estragon) jika kau kasihan padanya, tenangkan dia (estragon bimbang) ayolah! (Estragon mengambil saputangan itu) hapuslah air matanya, dia akan merasa sedikit lega (Estragon bimbang)”
Vladimir : “Sini, berikan padaku, aku akan melakukannya (estragon menolak menyerahkan saputangan itu. dengan gesture ke kanak-kanakan)”
Pozzo : “Bergegaslah, sebelum dia berhenti (Estragon mendekati Lucky dan akan menghapus airmatanya. Lucky menendang keras di bagian tulang keringnya. Estragon menjatuhkan saputangannya, melompat mundur, sempoyongan (menegrang kesakitan) saputangan! (Lucky meletakkan tas dan keranjangnya, memungut saputangan dan menyerahkannya pada Pozzo, kembali ke tempatnya, mengambil tas dan keranjangnya)”
Estragon : “Ah celeng! (dia menarik celana panjangnya ke atas) dia melumpuhkanku!”
Pozzo : “Sudah kubilang dia tidak menyukai orang asing”.
Vladimir (pada Estragon) : “Coba lihat (Estragon menunjukan kakinya. Pada Pozzo dengan marah) dia berdarah!”
Pozzo : “Pertanda bagus”
Estragon : (pada kaki satunya) “Aku tidak akan pernah berjalan lagi!”
Vladimir : (dengan lembut) “Aku akan menggendongmu (pause) jika perlu, Coba berjalanlah (Estragon berjalan dengan langkah pincang di hadapan Lucky dan meludahinya, lalu pergi dan duduk di atas gundukan)”
Pozzo :”Tebak, siapa yang mengajariku semua hal indah ini? (pause, menunjuk Lucky) lucky ku!”
Vladimir : “(memandang langit) Apakah malam tak akan datang?”
Pozzo : “Tapi baginya, semua pikiran dan perasaanku hanya akan menjadi hal yang biasa. Kekhawatiran professional! Kecantikan keanggunan, kebenaran air pertama, aku tahu semua tidak aku punya. Aku mendapatkan darinya!”
Vladimir : “(terkejut dari pemeriksaan) Darinya?”
Pozzo : “Hal itu sudah hampir 60 tahun yang lalu… (dia melirik arlojinya) ya, hampir 60 tahun (menggambarkan dirinya dengan bangga) kau tidak akan mengira hal itu tampak padaku, bukan? Dibandingkan dengannya, aku Nampak seperti gadis bukan? (pause) Topi! sekarang lihat. (Pozzo melepas topinya. Kepalanya botak polos (dia memakai lagi topinya)”
Vladimir : “Dan kau sekarang mengabaikannya? Seperti seorang tua dan pelayan yang tak setia. Setelah menghisap habis segala kebaikan yang ada padanya, kau ingin mebuangnya seperti sebuah…. Seperti sebuah kulit pisang. Sungguh….”
Pozzo : “ (merintih, mencengkram kepalanya) aku tak bisa menanggungnya… lebih lama lagi…. Cara dia melakukannya…. Kau tidak akan pernah tahu…. Mengerikan…. Dia harus pergi…. (dia mengayunkan tangannya)…. Aku bisa gila…. (dia jatuh, kepalanya ada di antara kedua tangannya) …. Aku tidak dapat menanggungnya…. Lebih lama lagi….(hening, mereka semua menatap Pozzo)”
Vladimir : “Dia tak dapat menanggungnya”
Estragon : “Lebih lama lagi”
Vladimir : “Dia bisa gila”
Estragon :”Ini mengerikan”
Vladimir : “(pada Lucky)Beraninya kau! Menjijikan! Seorang majikan yang baik! Menyalibkannya seperti itu! setelah bertahun-tahun lamanya! Keterlaluan!”
Pozzo : “(tersendat-sendat) Dia dulu sangat baik…. Sangat membantu…. Dan menghibur…. Malaikatku yang baik…. Dan sekarang…. Dia sedang membunuhku.”
Estragon : “Apakah dia ingin menggantikannya?”
Vladimir : “Apa?”
Estragon :”Apakah dia menginginkan seseorang menggantikan tempatnya?”
Vladimir : “Aku tidak tahu”
Estragon : “Tanyalah padanya”
Pozzo : “(lebih tenang)Sahabat-sahabatku, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Maafkan aku. Lupakan semua yang kukatakan tadi (lebih pada dirinya sendiri) aku tidak ingat dengan pasti apa saja yang aku katakan tadi, tapi kalian boleh yakin kalau tidak ada kebenaran di dalamnya.

ADEGAN 3
Vladimir : “Malam yang menakjubkan yang kita miliki”
Estragon : “Tak terlupakan”
Vladimir : “Dan ini belum berakhir”
Estragon : “Jelas-jelas tidak”
Estragon : “Kemana kita pergi”
Vladimir :”Tidak jauh”
Estragon : “Oh, ya. Ayo kita pergi jauh dari sini”
Vladimir : “Tidak bisa”
Estragon :”Kenapa tidak?”
Vladimir : “Kita harus kembali lagi besok”
Estragon : “Untuk apa?”
Vladimir : “Untuk menunggu Godot”
Estragon : “Ah! (hening) dia tidak datang?”
Vladimir : “Tidak”
Estragon : “Dan sekarang sudah terlambat”
Vladimir : “Ya, sekarang sudah malam”
Estragon : “bagaimana jika kita meninggalkannya?”
Vladimir : “Dia akan menghukum kita (hening. Dia melihat ke pohon) segalanya mati kecuali pohon itu”
Estragon : “ (melihat ke pohon) Apa itu?”
Vladimir : “Itu pohon”
Estragon : “Ya, tapi pohon jenis apa?”
Vladimir : “Aku tidak tahu. Pohon kayu (Estragon menarik Vladimir menuju pohon. Mereka berdiri diam di depannya. Hening)”
Estragon : “Kenapa kita tidak gantung diri?”
Vladimir : “Dengan apa?”
Estragon : “Kau bahkan tak punya seutas tali?”
Vladimir : “Tidak
Estragon
Kalau begitu kita tidak bisa melakukannya (hening)
Vladimir : “Ayo pergi”
Estragon : “Tunggu. Ada sabukku”
Vladimir :”Tapi terlalu pendek”
Estragon : “Benar”
Estragon : “Katamu kita harus kembali besok?”
Vladimir : “Ya”
Estragon : “Kalau begitu kita bisa membawa seutas tali”
Vladimir : “Ya. (hening)”
Estragon : “Didi”
Vladimir : “Ya”
Estragon : “Aku tidak bisa terus begini”
Vladimir : “Itu pikirmu”
Estragon : “Bagaimana jika kita berpisah? Mungkin akan lebih baik buat kita”
Vladimir  : “Kita akan gantung diri besok. (pause) kecuali jika Godot datang”
Estragon : “Dan jika dia datang?”
Vladimir : “Kita akan terselamatkan (Vladimir melepas topinya – yang sebenarnya milik Lucky – menatap tajam ke dalamnnya, meraba-raba bagian dalamnya, menguncang-guncangkannya, mengetuk-ngetukkan bagian atasnya, memakainya kembali)”
Estragon : “Bagaimana, bisakah kita pergi sekarang?”
Vladimir : “Tarik celanamu”
Estragon :”Apa?”
Vladimir : “Tarik celanamu”
Estragon : “Kau ingin melepas celanaku?”
Vladimir :”Tarik celanamu”
Estragon :” (sadar kalau celananya melorot ke bawah) Benar (dia menarik celananya ke atas)”
Vladimir : “Bagaimana? Bisakah kita pergi sekarang?”
Estragon : “Ya, ayo kita pergi (mereka tidak bergerak)”

 Tamat
 

Waiting for Godot merupakan sebuah naskah drama yang sudah beberapa kali dipentaskan. Naskah ini pertama kali dipentaskan di Paris pada tanggal 5 januari 1953[1]. Naskah aslinya berbahasa Prancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa termasuk bahasa Indonesia. Waiting for godot mulai ditulis pada tanggal 9 Oktober 1948 dan selesai pada tanggal 29 Januari 1949.[2] Naskah drama ini terdiri dari dua babak. Babak I dan babak II menunjukkan setting tempat dan waktu yang sama, yaitu di suatu jalan di desa pada suatu senja. Pada jalan itu terdapat sebuah pohon. Pada babak I, pohon itu tanpa daun, dan pada babak II sudah muncul beberapa helai daun. Tokoh yang terdapat dalam naskah ini hanya lima orang, yakni Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky, serta Boy. Namun dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh tersebut muncul nama Godot, ialah tokoh yang mereka nantikan. Godot tidak muncul dalam teks drama secara konvensional dalam artian hanya ada nama tokoh dan dialog tetapi hanya dalam ucapan tokoh tokoh yang membicarakannya. Dengan kata lain, kehadiran Godot adalah “ex absentia”, yakni keberadaan dari ketiadaan. Ia dibicarakan terus menerus namun ia tidak muncul. Ketiadaan dirinya telah menjadikannya sebagai pusat perhatian dan dengan cara yang demikian itulah ia menunjukkan kekuasaannya dalam hal daya paksanya terhadap Vladimir dan Estragon untuk tetap menunggunya datang.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/othinx/sekilas-tentang-waiting-for-godot_550e88f5813311882cbc647b
Waiting for Godot merupakan sebuah naskah drama yang sudah beberapa kali dipentaskan. Naskah ini pertama kali dipentaskan di Paris pada tanggal 5 januari 1953[1]. Naskah aslinya berbahasa Prancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa termasuk bahasa Indonesia. Waiting for godot mulai ditulis pada tanggal 9 Oktober 1948 dan selesai pada tanggal 29 Januari 1949.[2] Naskah drama ini terdiri dari dua babak. Babak I dan babak II menunjukkan setting tempat dan waktu yang sama, yaitu di suatu jalan di desa pada suatu senja. Pada jalan itu terdapat sebuah pohon. Pada babak I, pohon itu tanpa daun, dan pada babak II sudah muncul beberapa helai daun. Tokoh yang terdapat dalam naskah ini hanya lima orang, yakni Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky, serta Boy. Namun dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh tersebut muncul nama Godot, ialah tokoh yang mereka nantikan. Godot tidak muncul dalam teks drama secara konvensional dalam artian hanya ada nama tokoh dan dialog tetapi hanya dalam ucapan tokoh tokoh yang membicarakannya. Dengan kata lain, kehadiran Godot adalah “ex absentia”, yakni keberadaan dari ketiadaan. Ia dibicarakan terus menerus namun ia tidak muncul. Ketiadaan dirinya telah menjadikannya sebagai pusat perhatian dan dengan cara yang demikian itulah ia menunjukkan kekuasaannya dalam hal daya paksanya terhadap Vladimir dan Estragon untuk tetap menunggunya datang.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/othinx/sekilas-tentang-waiting-for-godot_550e88f5813311882cbc647b
Waiting for Godot merupakan sebuah naskah drama yang sudah beberapa kali dipentaskan. Naskah ini pertama kali dipentaskan di Paris pada tanggal 5 januari 1953[1]. Naskah aslinya berbahasa Prancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa termasuk bahasa Indonesia. Waiting for godot mulai ditulis pada tanggal 9 Oktober 1948 dan selesai pada tanggal 29 Januari 1949.[2] Naskah drama ini terdiri dari dua babak. Babak I dan babak II menunjukkan setting tempat dan waktu yang sama, yaitu di suatu jalan di desa pada suatu senja. Pada jalan itu terdapat sebuah pohon. Pada babak I, pohon itu tanpa daun, dan pada babak II sudah muncul beberapa helai daun. Tokoh yang terdapat dalam naskah ini hanya lima orang, yakni Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky, serta Boy. Namun dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh tersebut muncul nama Godot, ialah tokoh yang mereka nantikan. Godot tidak muncul dalam teks drama secara konvensional dalam artian hanya ada nama tokoh dan dialog tetapi hanya dalam ucapan tokoh tokoh yang membicarakannya. Dengan kata lain, kehadiran Godot adalah “ex absentia”, yakni keberadaan dari ketiadaan. Ia dibicarakan terus menerus namun ia tidak muncul. Ketiadaan dirinya telah menjadikannya sebagai pusat perhatian dan dengan cara yang demikian itulah ia menunjukkan kekuasaannya dalam hal daya paksanya terhadap Vladimir dan Estragon untuk tetap menunggunya datang.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/othinx/sekilas-tentang-waiting-for-godot_550e88f5813311882cbc647b
Waiting for Godot merupakan sebuah naskah drama yang sudah beberapa kali dipentaskan. Naskah ini pertama kali dipentaskan di Paris pada tanggal 5 januari 1953[1]. Naskah aslinya berbahasa Prancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa termasuk bahasa Indonesia. Waiting for godot mulai ditulis pada tanggal 9 Oktober 1948 dan selesai pada tanggal 29 Januari 1949.[2] Naskah drama ini terdiri dari dua babak. Babak I dan babak II menunjukkan setting tempat dan waktu yang sama, yaitu di suatu jalan di desa pada suatu senja. Pada jalan itu terdapat sebuah pohon. Pada babak I, pohon itu tanpa daun, dan pada babak II sudah muncul beberapa helai daun. Tokoh yang terdapat dalam naskah ini hanya lima orang, yakni Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky, serta Boy. Namun dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh tersebut muncul nama Godot, ialah tokoh yang mereka nantikan. Godot tidak muncul dalam teks drama secara konvensional dalam artian hanya ada nama tokoh dan dialog tetapi hanya dalam ucapan tokoh tokoh yang membicarakannya. Dengan kata lain, kehadiran Godot adalah “ex absentia”, yakni keberadaan dari ketiadaan. Ia dibicarakan terus menerus namun ia tidak muncul. Ketiadaan dirinya telah menjadikannya sebagai pusat perhatian dan dengan cara yang demikian itulah ia menunjukkan kekuasaannya dalam hal daya paksanya terhadap Vladimir dan Estragon untuk tetap menunggunya datang.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/othinx/sekilas-tentang-waiting-for-godot_550e88f5813311882cbc647b

No comments :

Post a Comment